Thursday, January 10, 2008

TERJEBAK


Argus Bandung [News for Culture - Art - Education]
Agensi Berita Bandung - Bandung News Agency
Monday, September 3, 2007

Monolog Guru Yang “Terjebak”
Sebuah karung di antara dedaunan dan semak-semak meringkuk di tengahnya. Kemudian keluarlah suara manusia yang berujar penyesalan dirinya. Dia teringat saat itu, pada ibu kandung yang telah membesarkannya menjadi seorang bajingan, manusia hina, dan kotor. “Terima kasih ibu, cintamu begitu tulus dan abadi,” katanya di dalam karung itu. Namun katanya lagi, sudah tak mungkin untuk kembali ke dalam rahim sang ibu karena penyesalannya itu. Dosa besar baginya karena telah menjadi manusia kotor yang mencoreng wajah ibu kandungnya.
“Aku bukan Sidharta Gautama yang suci, aku manusia kotor dan hina. Aku terbuang,” ujarnya kemudian. Menyadari keterjebakannya dalam masalah itu ia berontak, ingin pergi. “Aku harus meloloskan diri dari semua masalah ini,” tukasnya sembari mencoba keluar dari dalam karung. Hingga kemudian ia lupa diri. Tapi ia terus menggeliat untuk keluar dari keterjebakannya dalam “karung” masalah itu.
Adegan serius berlanjut dengan masuknya dua orang penari dari pemain “Tubuh Lahir Tubuh Perang” yang sempat dipentaskan di Studio Teater bulan Juli lalu. Akan tetapi kemudian Hermana, pemain monolog “Terjebak”, menjelaskan adegan itu sebagai upaya sabotase dari pemain lain itu. Penonton pun disadarkan akan hal itu hingga membuat tertawa. Hermana keluar dari perannya sebagai guru yang terjebak masalah ekonomi dalam monolog itu. Kemudian berinteraksi dengan para penonton dan membuat sebuah dialog tentang guru. “Guru adalah pahlawan tanpa jasa, bagaimana menurut anda guru itu?” Tanya Hermana kepada penonton. Beberapa penonton angkat bicara menjawab pertanyaan dari Hermana. Ada yang menjawabnya dengan pernyataan keprihatinannya terhadap figur guru. Ada juga yang menjawab bahwa menjadi guru itu baik. “Saya merasa tidak terjebak menjadi guru. Saya senang menjadi guru, karena guru adalah jalan dakwah bagi saya, bukan profesi,” tutur Rahmat, 35 tahun, salah seorang penonton monolog itu.
Suasana cair itu kembali diarahkan pada pementasan oleh Hermana. Saat itu ia menjadi tokoh guru dalam perannya membawakan monolog Terjebak. Pementasan yang digelar dalam rangka ulang tahun Jurusan Teater STSI Bandung yang ke 29 di Gedung Patanjala, STSI Bandung kemarin (24/8). “Guru adalah pilar pembangunan bangsa. Karena guru lahirlah seorang pengusaha, tentara, wartawan, bahkan pejabat,” katanya. Semua penonton merasa diyakinkan oleh Hermana bahwa profesi guru adalah mulia. Namun demikian Hermana dalam perannya menjelaskan keadaan ekonomi guru-guru honorer yang diberi imbalan tidak memadai.
Suasana tragis pun terbangun dengan ujaran Hermana dalam pentas Terjebak itu. Kemudian muncul rekaman gambar seputar peristiwa demonstrasi pendidikan dan demonstrasi guru di beberapa kota. Adegan berlanjut dengan kisah dirinya yang menjadi guru honorer. Ketika itu ia menceritakan suatu kejadian runtut yang menyebabkan dia mati sebagai manusia. Yaitu ketika anak kesayangannya sakit dan dirawat di rumah sakit. Ketika itu ia tidak memiliki uang untuk menebus biaya rumah sakit. Karena itulah ian memberanikan diri untuk menjual buku kepada murid-murid yang diajarnya. Karena gaji guru honorer tidak mencukupi untuk membayar biaya rumah sakit.
Dalam kisah itu dia tertangkap oleh aparat karena tindakannya menjual buku kepada murid. Meski akhirnya dia dibebaskan, namun rasa bersalah teru menghantuinya. Maka dia menerima surat keputusan yang memberhentikannya sebagai guru honorer secara tidak hormat dari sekolah. Dia kemudian beralih profesi menjadi seorang pemulung. Namun profesi itu tidak juga menyejahterakan keluarganya. Anak dan istrinya sangat merindukan dia pulang. Namun dia belum mempunyai cukup uang untuk keluarganya di kampong.
Ekstasi kesulitan ekonomi dalam hidupnya divisualkan dengan adegan dikotik. Lagu “Kucing Garong” diperdengarkan dan dia menari di sana. Adegan ini lebih nampak sebagai puncak keputus-asaan dirinya yang tidak mampu mencari nafkah yang layak. Kesan hiburan di diskotik pun tidak terasa sebagai adegan hiburan.
Bencana tragis dalam hidupnya yang telah menjadi mantan guru it uterus berlanjut. Dia menerima sepucuk surat dari istrinya. Sebuah surat yang berisi kerinduan seorang istri dan anak kepadanya. Belum sempat dia membalas surat itu terdengar kabar bahwa kampunya dilanda bencana. Rekaman bencana nasional yang menimpa masyarakat Indonesia beberapa saat lalu, seperti banjir, gempa bumi, dan tsunami, ditayangkan pada layar di belakang panggung.
Saat itu dia hanya bisa meratapi tubuh anaknya yang sudah menjadi mayat. Rumahnya hancur berantakan. Istrinya entah di mana terkuburnya. Suasana sedih pun dihantar dengan alunan komposisi musik yang berisi puisi “Kemerdekaan” buah karya Toto Sudarto Bachtiar, yang dibacakan oleh seorang gadis kecil. Pertunjukan monolog Terjebak ditutup dengan gambar bendera merah putih pada layar di belakang panggung, sementara dia terkujur di tanah dengan kain putih yang menutupinya. *** Repertoar monolog Hermana yang berjudul “Terjebak” dikemas dengan sentuhan teknologi melalui sajian gambar-gambar hidup berupa video dokumenter dan animasi - multimedia di pentas. Penciptaan suasana tragis tokoh guru honorer yang dibawakan oleh Hermana itu tentu saja terasa lebih dramatis dan artistik, meskipun secara visual masih jauh dari kesempurnaan karena faktor peralatan media yang digunakan sangat terbatas kualitasnya.
Sementara itu, akting Hermana menggunakan konsep “Teater Sabrehna”. Bentuk teater Sabrehna menjadi ciri khas repertoar Hermana. Metode Brechtian, salah satu akar konsep Sabrehna, sendiri adalah teori pembawaan peran (akting) yang berasal dari teater anti ilusi atau antitesa dari proses empati yang disuguhkan oleh Aristoteles. Teater Verfremdungseeffekt (teater efek - pengasingan) atau alienasi, menegaskan adanya efek pengasingan yang muncul oleh alur cerita yang tidak berhubungan secara sebab-akibat, terpisah dan hanya terhubung oleh tema sentral. Pemain justru harus menjaga jarak dengan peran, sehingga pemain dapat berdialog dengan perannya sendiri. Itulah ciri teater epis Brecht.
Konsep teater Sabrehna dalam repertoar “Terjebak” juga repertoar sebelumnya diambil dari bahasa Sunda yang artinya seadanya, senyatanya. Jadi, teater Sabrehna adalah sabrehna apa yang dilihat, sabrehna apa yang dipikirkan, sabrehna apa yang dirasakan, dan sabrehna apa yang digerakkan dalam koridor kesadaran penuh tanpa mengesampingkan etika dan kekuatan estetik sebagai pertanggungjawaban kepada publik. “Main-main dalam bermain, tapi tidak main-main,” kata Hermana dalam proses latihan suatu produksi teater. Ia menekankan bahwa kesanggupan pemain itu harus ada ketika sedang bermain, berakting, dan adanya kesadaran untuk berkomunikasi dengan publik.
Konsep ini menjawab pertanyaan para kritikus dan penulis pertunjukan selama ini. Yakni ditunjukan dengan interupsi adegan ketika Hermana berada di tengah penonton dan berdialog dengan penonton secara langsung. “Jangan takut, jangan tegang! Ini bagian dari pertunjukan,” ujar Hermana kepada salah seorang penonton yang duduk di kursi paling depan yang terlihat tegang atau mungkin terganggu konsetrasinya saat menonton. Pada momen ini suasana pertunjukan agak cair, hingga kemudian Hermana memberi kesempatan kepada penonton untuk berkomentar tentang sosok dan peranan guru bagi masyarakat. Aktor turun ke area penonton memang tidak lazim ditemukan dalam pementasan teater realisme. Hermana melakukan hal ini karena konsep Sabrehna yang dipakainya.
Pertunjukan atau akting Hermana itu berlanjut lagi. Di atas pentas ia menjadi tokoh guru kembali. Dengan intensitas dan kesungguhan membawakan tokoh perannya. Kesedihan dengan air mata yang keluar terkesan benar-benar sedih. Ketika ia mengisahkan kisah sedih yang menimpa keluarganya. Hermana mengakui itu kepada saya dalam wawancara singkat setelah pertunjukan usai, bahwa tangis di atas pentas tadi benar-benar ekspresi kesedihannya terhadap guru-guru honorer di Indonesia. Jadi, air mata itu memang air mata sungguhan. Bentuk ekspresi ini kemudian disebutnya dengan kesungguhan memerankan tokoh di pentas. Jadi, memang tidak main-main.
Lakon “Terjebak” yang ditulisnya sendiri, dipentaskan sendiri, dan disutradarai sendiri ini merupakan sebuah repertoar yang dipersembahkan kepada seorang guru aktor di Bandung bahkan Indonesia, yaitu almarhum Suyatna Anirun.

ENDGAME


ENDGAME; Mengenang 100 tahun Beckett. Sebuah Refleksi Kegamangan Hidup.
Oleh :Hermana HMT

Pada umumnya manusia akan berusaha menghidar dari berbagai penderitaan yang menerpa dirinya. Ia akan mencari kesempurnaan hidup, yang senantiasa bisa mengiringi entitasnya. Walau kenyataan menunjukan, bahwa pada dasarnya manusia tidak ada yang sempurna. Tapi bersama ‘ego’ yang dimilikinya ia akan mencoba dan mencoba lagi memperjuangkan eksistensinya. Menunjukan, bahwa aku ada karena aku membuatku ada, aku bisa karena aku membuaku bisa. Dengan itu kesempurnaan sebagai manusia akan nampak, meskipun sekedar mendekati kesempurnaan.
Manusia hidup selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihannya dan pilahan itulah yang akan membawa dirinya. Manusia akan bertanggung jawab atas hidupnya, apakah ia ingin hidup penuh kebahagian atau berada dalam penderitaan, apakah ia ingin berubah atau tidak. Tidak ada yang bisa memutuskan kecuali dirinya sendiri dan kepetusan itu tentunya bukan semata untuk dirinya melainkan tanggung jawab terhadap semua manusia.
Ia yang bukan apa-apa. Ia tidak akan menjadi apa-apa sampai ia menjadikan hidupnya apa-apa. Manusia adalah manusia itu sendiri. Bukan bahwa ia adalah apa yang ia anggap sebagai dirinya, tapi ia adalah apa yang ia ingini, dan ketika ia menerima dirinya setelah mengada – ketika apa yang ia ingini terwujud setelah meloncot ke dalam eksistensinya. Manusia bukanlah apa-apa selain apa yang ia buat dari dirinya sendiri. …. Ketika seseorang mengikatkan diri pada sesuatu, sepenuhnya menyadari bahwa ia tidak hanya memilih ia akan menjadi apa, tetapi juga sekaligus seorang ligislator yang memutuskan bagi seluruh umat manusia. Dalam situasi seperti ini, ia tidak dapat lari dari rasa tanggung jawab yang komplit dan mendalam ( JP. Sartre:1960 ).
Kesadaran manusia dengan keinginannya berbuat sesuatu yang baik untuk dirinya (sekaligus juga bertanggung jawab untuk manusia lainya), paling tidak harapan untuk mengakhiri sebuah penderitaan akan segera mewujud. Tapi apabila keputusasaan hinggap di jiwanya, tentu akan lain lagi. Dengan sendirinya manusia meruntuhkan eksistensinya, bahkan melenyapkan makna keberadaannya. Ia pun akan berada di dunia penuh kegamangan, sunyi, kosong dan tak berarti apa-apa, kecuali bergelut dengan segenap penderitaannya.
Tidak mau beranjaknya manusia dari penderitaan sebenarnya merupakan sebuah pilihan pula. Ia merasa kehidupan seperti itu harus dijalani sepenuhnya. Engame adalah sebuah lakon karya dramawan dunia - Samuel Beckett merupakan sepenggal kisah manusia yang mengisaratkan gejala psikologis dan sosiologis seperti itu. Sisa kehidupan yang hancur berkeping-keping dibeberapa belahan dunia akibat peperangan menorehkan sisi gelap yang amat getir bagi kehidupan manusia. Menyeret dirinya ke dalam situasi yang ganjil, sia-sia, mustahil, serta penderitaan yang berkempanjangan, sehingga menempatkan manusia berada di tingkat absurditasnya - menjadi manusia absurd.
Lakon Endgame ini mengisahkan seseorang bernama Hamm, manusia buta, lumpuk dan selalu menggunakan kateter agar bisa kencing. Ia menjalani seluruh hidupnya di atas kursi beroda, di sebuah ruangan sejenis gudang jauh di bawah tanah. Ada Clov, teman sekaligus pelayan setia Hamm. Ia tidak bisa duduk karena ada kelainan dikakinya. Dua tokoh lain, Nagg dan Nell adalah ayah dan ibu kandung Hamm yang senantiasa merecokinya. Mereka yang buntung ( tanpa memiliki kaki ) menghabiskan hidupnya di dalam dua tong abu terpisah.
Hamm yang sangat berambisi untuk mengetahui kondisi dunia luar senantiasa menanyakan kepada Clov. Namun setiap pertanyaan yang terlontar, Clov selalu memberikan jawaban yang sama, bahwa di luar tidak ada apa-apa kecuali kekosongan dan kegelapan. Selain itu Hamm pun selalu bertanya, apakah dia sudah waktunya minum obat, dan Klov dengan tegas menyatakan bawah obot untuk menahan rasa sakit belum waktunya untuk di minum. Sementara di sisi lain Clov pun selalu barkata pada Hamm bahwa ia akan pergi meninggalkan semuanya. Hamm mencoba menahanya dengan doktrin-doktrin, bahwa tidak ada tempat selain di ruangan ini, bila ada tempat lain, tempat itu adalah neraka. Walau demikian Clov masih saja berisi keras untuk pergi, tapi baru sampai di dapur nyatanya ia tidak bisa pergi lebih jauh, dan bersama kekesalannya ia pun kembali lagi mendampingi Hamm.
Semakin berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan dan beban yang dideritanya, semakin mengumpal pula penderitaan yang mereka rasakan, dan pada titik kulminasi ketidaksepahaman diantara mereka, dengan polos Klov berkata pada Hamm bahwa obat penahan rasa sakit sudah tidak ada lagi. Hamm semakin tepukul. Satu-satunya harapan yang sangat ditunggu-tunggu ternyata hanya harapan kosong. Tak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali dengan menutup pembicaraan dan segala aktifitasnya. “ Permainan sudah berakhir”, begitulah kata Hamm. Akhirnya kesadaran akan diri sabagai mahluk yang terbuang dalam kehampaan tak bermakna itu, dengan keharuan yang mendalam Hamm dan Clov melumerkan kebekuan masing-masing hatinya dengan saling berterimakasih atas segala yang pernah mereka terima, baik atas kebaikan dan keburukannya.
Dalam kisah Endgame, Beckett mengajak kita untuk lebih merasakan betapa konyolnya dan tak berarti apa-apa hidup di dunia ini. Manusia seperti berada di dalam labirin. Ia kehilangan tujuan hidup, kehilangan harapan dan kehilangan cita-cita. Jiwa raganya terakumulasi dalam kehampaan eksistensi, dan kecacadan fisik yang dimiliki setiap tokoh menjadi pelengkap derita yang tak kunjung berakhir. Menegaskan manusia sebagai mahluk yang absurd dan menjalani hidunya dengan cara yang absurd pula.

**

Samuel Beckett bernama lengkap Samuel Barclay Beckett. Ia lahir di Foxrock, Dublin, Irlandia, pada tanggal 13 April 1906 dan meninggal di Paris, tanggal 22 Desember 1989. Pada usia 21 tahun ( 1927 ) ia telah menyelesaikan jenjang pendidikan Bachelor of Arts ( BA. ) dengan predikat sangat memuaskan di bidang sastra Italia dan Prancis. Kemudian, berkat dorongan guru-guru besarnya ia di kirim ke Prancis untuk mengajar bahasa Inggris di Ecole Nomale Superieure di Paris tahun 1928. Dua tahun kemudian ia kembali ke tempat kelahirannya untuk mengajar bahasa dan sastra Prancis di Trinity College sekaligus menyeselesaikan Masternya. Tahun 1932 ia kembali lagi ke Paris dan tidak lagi meneruskan kariernya dibidang pendidikan, tapi ia lebih memilih sebagai penulis esai dan sastra dengan bergabung di kelompok kesenian.
Karya-karya Beckett banyak ditulis dalam bahasa Inggris dan Prancis. Selain menulis puisi dan novel Beckett pun menulis lakon – Menunggu Godot merupakan lokon pertamanya yang dibuat dan mengantarkan dirinya meraih hadiah Nobel tahun 1969 untuk bidang kesusastraan, tapi sebelumnya ia pun telah meraih berbagai penghargaan dibidang seni dan sartra yang diantaranya, Obie Award, Itali Prize dan disusul penghargaan lainnya seperti dari National Grand Prize for Theaterm New York Drama Critics Circle Citation.
Sebagai lakon kedua yang ditulis Beckett, Endgame hampir memiliki kesamaan tema dengan lakon pertamannya, Menunggu Godot. Selain anti plot, juga memiliki ciri khas mengenai kecacadan fisik pada setiap tokohnya. Dalam Menunggu Godot tokoh Gogo memiliki kesulitan dengan kakinya, Didi sulit buang air kecil, Pozzo dan Lucky tokoh yang bisu dan tuli. Sedangkan dalam lakon Endgame tokoh Hamm bermasalah dengan kepalanya, matanya buta dan kakinya lumpuh, Clov tidak bisa duduk karena kakinya tidak bisa dibengkokan, Nagg dan Nell tidak memiliki kaki sama sekali ( buntung ). Sementara yang membedakan dari kedua lakon itu adalah : Menunggu Godot titik beratnya lebih pada “menunggu yang tidak kunjung datang”, sedangkan Endgame lebih pada “kerpergian yang tidak pernah terjadi”.
Kegetiran dan tekanan batin yang bergejolak dalam karya-karya Beckett, dengan latar belakang paska Perang Dunia II itu dirasakan pula pada kondisi kehidupan kita sekarang ini. Menunggu dalam ketidakpastian, lalu berusaha mencari jalan keluar tapi hampir semua pintu tertutup rapat dan kita pun kesulitan menemukan kunci pembukanya. Kalau kita hitung semenjak krisis ekonomi tahun 1997, hampir setiap saat rasanya bangsa ini tidak henti-henti dirundung duka cita. Teror bom, banjir, gempa, tsunami, longsor, perang saudara, kerusuhan, pemutusan hubungan kerja, kelaparan, berbagai wabah penyakit, korupsi, hukum yang mandul menjadi hiasan sehari-hari. Menguras air mata, memeras pikiran, menyedot tenaga dan kita senantiasa mengurut dada setiap saat. Kapan semua ini berakhir ?
Pertanyaan besar itu sering kali menyulitkan kita untuk menjawabnya. Karena setiap kali berusaha menjawab, masalah datang lagi - datang lagi dan terkadang jawaban yang ditawarkan itu sendiri menjadi masalah baru. Ketika merasa kesulitan untuk mempercayai lagi akan segala solusi atau jawaban yang ditawarkan, lantas masyarakat berusaha mencari jawabannya sendiri. Tapi mereka pun tidak memiliki jawaban yang pasti dan akhirnya masalah kian menumpuk, lalu penderitaanpun berkepanjangan sampai saat ini. Tidak ada lagi permainan yang cantik atau mengalir penuh daya hidup. Semuanya menjadi gamang dan berakhir tanpa penyelesaian yang jelas.

EXIT THE KING


EXIT THE KING BY IONESCO
Oleh : Hermana HMT

Pertumbuhan teknologi yang berlebihan telah menciptakan suatu lingkungan di mana kehidupan menjadi tidak sehat, baik secara fisik maupun secara mental. Udara yang tercemar, suara yang mengganggu, bahaya radiasi dan banyak sumber stres fisik dan psikologis telah menjadi bagian kehidupan sebagian besar dari kita sehari –hari ( Fritjof Capra : 1997 ). Tetapi kenyataan seperti itu tidak menjadikan ambisi manusia kendur. Setelah dua kali perang dunia melanda dan memporak porandakan segala-galanya, dengan kecanggihan mongolah fikirannya masih saja manusia berlomba-lomba mengembangkan perlengkapan perang, senjata pemusnah masal dengan kapasitas yang tidak logis. Setidaknya perbuatan itu menjadi ancaman utama bagi keberadaan manusia, sehingga menimbulkan deretan kecemasan mengalir sepanjang sejararah hidup manusia.
Di sisi lain manusia banyak pula yang asik sendiri, merasa dirinya lebih sempurna, dan tak satupun manusia lain di perkenankan mengganggu entitasnya. Misalnya dia seorang presiden atau raja, ia merupakan satu-satunya kekuatan yang absolut. Sementara itu absoluditas yang dimilikinya tidak membuat perubahan-perubahan yang lebih signifikan bagi kelasunggan hidup dirinya, negara dan rakyatnya, sehingga segalanya bukanlah semakin maju tapi kian terpuruk bahkan menuju pada kehacuran. Karena harapannya hanya dipendam dalam jiwa, cita-citanya di simpan dalam memori yang beku, kemegahannya tinggalah kenangan dan mimpi-mimpi buruk, semuanya tidak ada yang diraih dengan segenap usaha. Maka yang ada tinggalah kegalauan, kehampaan tanpa arah, tanpa tujuan, hidup tak mau matipun enggan menjadi kerabat dalam entitasnya.
Betapa konyolnya mahluk yang bernama manusia, mengada tetapi tidak bisa berbuat banyak untuk kemanusian itu sendiri. Mereka biarkan jiwa-jiwa terlempar ke dalam lubang yang sangat dalam, gelap, penuh kecemasan, terasing dan sunyi.
Pada tahapan itu manusia sering kali merasa kehilangan dunianya, kehilangan makna adanya dan kehilangan pengalaman tentang komunitasnya. Ia merasa berada dalam suatu bangsa yang tidak di kenal. Ia seolah-olah hidup untuk menjalani hukuman, untuk berkeliaran dalam keputus asaan yang diam, dalam ketiadaan komunitas, dalam keterasingan dan dalam ketiadaan tempat untuk berpijak.
Kisah Raja Mati adalah sebuah perlambang kehidupan manusia yang tidak mampu menunjukan eksistensinya. Entitasnya tenggelam dalam perasaannya sendiri tanpa ada tindakan yang direalisasikan dengan nyata, sehingga segalanya menjadi angan-angan panjang yang tak bermakna. Eksistesinya sungguh berada dalam kekosongan, dan jiwanya terseret dalam kegalauan yang kemudian mengarah pada gejala kelainan jiwa, dengan ditunjukan oleh rasa takut yang berlebihan. Takut akan kematian, takut menjalani hidup, takut ditinggal oleh segala yang menjadi miliknya, takut tidak dikenang siapapun dan ketakutan-ketakutan lainnya lagi.
Persoalan hidup dan mati adalah persoalan yang paling mendasar dalam eksistensi manusia. Keduanya nampak sulit untuk dipisahkan, keduanya akan terus bersama membayangi ke mana dan di mana manusia itu berada, keduanya akan turut berarak mengikuti ayunan langkah kakinya dan keduannya melahirkan kesepakatan bersama yang sangat mengikat, bahwa setiap mahluk hidup (manusia) pasti bakal mati dan tak seorang pun tahu kapan kematian itu akan datang menjemputnya.
Kematian membuat eksistensi manusia menjadi nyata, absolut dan kongkret. Alasannya, kematian sebagai potensi absolut dan menjadi spesifik. Kemampuan ini pada akhirnya mendorong manusia untuk memahami dirinya sebagai ada bersama orang lain, disamping ada sebagai dirinya sendiri. Kematian, dengan perkataan lain merupakan suatu fakta dari hidup manusia yang bukan relative ( Psikologi Eksistensialis : Rollo May ). Lantas bagaimana manusia menyikapinya ? Tentu saja ada beberapa kemungkinan yang bakal terjadi. Bagi yang memiliki keyakinan agama cukup kuat hal semacam itu bukanlah sebuah masalah, karena hidup dan mati adalah haknya, mati adalah rahasia dan milik yang menciptakannya. Sementara bagi kebanyakan orang yang panjang angan-angan dan kecintaan terhadap kehidupan duniawinya sangat kuat seringkali tidak mau menerima kenyataan itu. Baginya hidup merupakan hak dan kematian hanyalah hantu misterius yang mesti disingkirkan jauh-jauh dari kehidupan. Sok pasti, karena pengalaman selama hidupnya, kehidupan telah menawarkan kesenangan yang nyata, sedangkan kematian masih dalam tanda kutif ( rasionalitas manusia sering menyebutkan; sejak manusia pertama tercipta belum ada yang mati kembali lagi dan mengabarkan pengalaman kematiannya ). Tetapi berbeda sekali dengan orang yang bosan atau tidak bisa menerima kenyataan hidup, kamatian ( bunuh diri ) justru menjadi pilihan utamannya. Kematian merupakan penyelamat terakhir bagi dirinya dalam mengarungi hidup yang dianggapnya tidak bersahabat dan tidak memberikan apa-apa, kecuali kelaraan.
Tetapi ada pula manusia yang diam dalam keambiguan. Seperti halnya sang Raja dalam Raja Mati-nya Ionesco, di satu pihak ia ingin keabadian, di pihak lain dengan entitas fisiknya yang kian melemah ia tidak mau berusaha meraih keabadian itu. Malahan ia membiarkan dirinya tenggelam dalam angan yang hampa, tanpa mau menunjukan eksistensinya sebagai pribadi manusia, dan akhirnya ia pun terbelenggu dalam kekosongan ontologis ( makna ada ). Jika demikian bagaimana bisa mengada dengan baik apabila keberadaannya tidak dipahami oleh dirinya sendiri? Tentu, kecemasanlah yang akan menyertai dan menjadi teman baiknya, bahkan menjadi hantu gentayangan yang menakutkan di manapun ia berada.
Raja Mati merupakan naskah absurd yang struktur ceritanya tidak berada dalam garis-garis konvensional. Namun dalam sebuah tulisannya Ionesco menyatakan ; “ Ketika menulis, saya tidak berpikir apakah saya seorang pengarang avangarde atau tidak. Saya mencoba mengungkapkan sejujur mungkin bagaimana dunia tampak bagi saya, tanpa berpikir untuk propaganda…..saya hanya berminat untuk mempersonifikasi dan melahirkan makna realitas yang lucu dan menyedihkan”.
Dalam Raja Mati –nya Ionesco, kelucuan dan ketragisan sangatlah kental, namun kelucuannya tidaklah sejelas komedian Moliere. Kelucuan Ionesco adalah kelucuan yang terbilang cerdas, sebuah lelucon yang baru bisa ditangkap apa bila kita memahami kandungan makna kalimat yang terkadang loncat-loncat atau tidak adanya kesinambungan satu sama lain dan melahirkan kekonyolan-kekonyolan yang mengharukan. Kelucuannya muncul tidak bermaksud untuk melawak atau agar ditertawakan orang sehingga terkesan dibuat-buat, kelucuan itu hadir dari lontaran-lontaran kalimat yang sangat bersahaja ( wajar ).

Saturday, December 8, 2007

TO WHOM IT CONCERN

TO WHOM IT CONCERN


Hermana, known as one of the young theatre actors in Bandung. Hi graduated from Theatre Departement at STSI ( Indonesia College of Art ) Bandung, with his major in Directing. He Create several erformances, with another young theatre actors. Hi olso involve in script writing.
Hermana work in both field: trodisional and modern genres of theatre. Oftenly he tend to use tradisional music and vocalization as source and artistical medium for his theatre performance. Recently he olso attracted by multimedia and try to combine and expresing it to visualize the the ssychological problem.
In his creation, Hermana mostly dealing with social theme. From this side he focusing to comment and give criticism about human condition in urban society. He try to potray their destruction and leneliness, bat olso find an bridge how to provoke among the spectators to develop the issue. He try to stimulate and to develop the theme through audience participation, and invite theme to open free discusiun abaut the problem. It is a kind of technic how to enrich the oin of view.
As on actor, Hermana use gestical expression taken from tradisonal vocabularies. But his passion and pawer to persuade is typical modern. To intensify his performance, he olso documentetary pieces and the spirit of nasionalism as final conclusion.
Hermena heve no internasional exprerience yet. So, if he able to reach thet opportunity, I thing he will learn more and use it as brigde to his wider network.

Written by: Benjon – actor, dorector, theatre critic, playwright.

Monday, October 29, 2007

THE SONG OF THE RED ANT


KASARUNG or THE SONG OF THE RED ANT
By : Hermana HMT

ACT 1

A stringed instrument called tarawangsa (Tadisional music from West Java) or violin is being played heartrendingly. The light slowly turns on. The floor of the stage is covered with white colour. On a wood level someone (THE DARKENESS) is lying down. He is covered with white cloth irom neck to toe, and strewn with colourful flowers. Several heaps of tangled threads and a number of coconuts are scattered around the level. Some of the coconuts are peeled, some are half-peeled with their fibre still on and some are whole. A string of mixed flowers is put over each coconut. Something like thick blood is dripping out to de floor from the coconut shells.
From the ceiling of the stage hang several coconuts, bamboo spears or pipes two meters long that are already speared, bottles or something similar to bottle. Bottles are olso broken on the bottom. These properties slowly move up and down like the movement of knitting machine. Everything is smeared with blood, which drips slowly to the floor.

ACT 2

The scream of the tarawangsa music or violin stops, so does the movement of the properties on the ceiling. Silent for a moment. Suddenly the music is played thunderously followed by on noise from a crowd. From both corners the stage or it could olso be from behind the oudience a number of people appear making such an incomprehensible noise. In their left hands they carry a bucket from which smoke is coming out. They noisily point at each other and make a fuss below the stage, and then go on stage, circling THE DARKNESS, an suddenly stop all at once, forming a half-circle with their back to the audience. After a few seconds they start to point at THE DARKNESS, repeatedly mumbling some unclear sentences. Then they are silent again. Slowly they retreat in a sideways position with their back still to the audience. They say, " He is sick, your are sick" ten times, their eyes on the audience sometimes on THE DARKNESS. They scream, hitting their foreheads with their right hands. They run around THE DARKNESS and saying, " Everybody is sick, everybody is sick, everybody is sick" repeatedly with their right hands covering their lips and their left hand still carrying the bucket pointed at THE DARKNESS. One by one they put down the buckets and sit folding their feet in front of the tangled threads.

ACT 3

The tarwangsa music or violin is heard again. The hung properties slowly move again. THE PEOPLE try to disentangle the threads, although it doesn’t make sense that they can be fixed. But they keep trying hard anyway. The movement of their hands is getting faster and faster so that the threads get more entangled rather then neatly disentangled.

THE DARKNESS :
(SUDDENLY STANDS UP AND SHOUTS) Mother!

THE PEOPLE stand up all at once and move with their eyes towards the ceiling of the stage. After a while they let themselves fall to the floor, but not THE DARKNESS.

THE DARKNESS :
(SHOUTING AGAIN) Mother! (HE FALL DOWN HIMSELF. THE PEOPLE SUDDENLY GET UP AND THEMSLEVES FALL AGAIN).
SOMEONE :
(STANDS UP AND SHOUT) Get up! Get up! Get up! Let’s work again.
THE PEOPLE stand up and quickly move their hands to disentangle the threads. But they suddenly stop and stare at the tangled threads, mumbling ( HUMMED) full of concern/ worry.
THE DARKNESS :
(AS IF TALKING IN HIS SLEEP) Mother! Mother! Mother! (GETS UP) Did I talk my sleep? I don’t think so. I clearly heard her moan. (HALF SHOUTING) Mother! I can feel your sadness. Your pain is olso mine. I really wont to cure your wound, but my hands and my mouth are unable to do more. Once I wanted to ask for the helf of our relatives, but their hands are full of sharp claws. They would cause your wounds to get worse, whereas your hopes are in my and their hands. Now that I have become poerless, whom can put our hopes in? (HE LEF HIMSELF FALLS)

The tangled threads at which THE PEOPLE are staring are lifted to the right side of their heads, while they sofly start to chant.

THE PEOPLE :
Oh my God! Oh my God! Oh my Gog! Oh my God! My God! My God.......

The tempo of the chanting becomes faster and the voice louder. Their bodies are shaking. The tangled threads move as if they have a soul, trying to grab whoever holds them. THE PEOPLE try to resist until they have to lay face-up on the floor. THE DARKNESS seems surrised and frightened. He stands up and covers his ears with both hands, his eyes bulging out, staring up at the sky open-mounthed.

ACT 4

The cry of a baby can be heard everywhere. The tangled threads are thrown up. THE PEOPLE who are lying on the floor face-up start to move, make the sound of s baby, then cry hysterically. The music is thunderous. The hung properties constantly and slowly move up and down.

THE DARKNESS :
(TRYING TO FIND WHERE THE VOICES CAME FROM) Baby! Baby! Baby! (POUSE) Is that the cry of a newly born baby? Or the cry of newly born parties?

All activities stop at once. The stage is very quiet. The eole lay in crucified position.

THE DARKNESS :
Is that cry of a newly born baby or newly born parties?
THE PEOPLE :
(MOVING UP THEIR HEADS BAT NOT THEIR BODIES, AS IF SITTING UP) The babies’ an the parties’.
SOMEONE :
(MOVING UP THEIR HEADS AS IF STTING UP) Yes, newborn parties like babies. And there’s so many babies entering a party.
THE DARKNESS :
(AMAZED) Babies and parties. Bebies entering parties? It’s terrible.
THE PEOPLE :
(MOVING UP THEIR HEADS AS IF SITIING UP) Are you surprised?
THE DARKNESS :
More then just surprised. Its’s incomprehensible. Illogical!
THE PEOPLE :
(MOVING UP THEIR HEADS AS IF SITTING UP) That’s right. Anyone who just come to this place for the first time will make the same comment.
SOMEONE :
(STANDS UP) Yes. At this place we have lived for a long time without logic, let alone a deep feeling. For long we have gotten ourseves used to living in absurdity. Whatever happens is our reality.
THE DARKNESS :
(TO HIMSELF) It’s horrible. Difficult to imagine. So this is the life I have to experience.
THE PEOPLE :
(STAND UP AND POINT AT THE DARKNESS) How dare you come to this place?
THE DARKNESS :
I’m looking for mother. Did you see her?
THE PEOPLE :
(LOOKING AT EACH OTHER) Mother? (THEY LAUGH AT HIM GLEEFULLY).
THE DARKNESS :
(ANGRY) Why are you laughing?
SOMEONE :
Pardon us, buddy. There’s no mother and one is treated as mother in this place.
THE DARKNESS :
No one? Bat how come there are so many babies, here.
THE PEOPLE :
They are discarded babies.
THE DARKNESS :
Oh, my God. How can anyone discard a baby?
THE PEOPLE :
Why not, if it’s the best way.
SOMEONE :
Moreover, those babies were prematurely born and do not have clear fathers. It would be better for them to be discarded and die rather then sffer their whole lifetime. We are pretty sure thet they will turn out to be demangders and belong to heaven.
THE DARKNESS :
They were born prematurely and have no fathers. The same with those parties?
THE PEOPLE :
Yes, it is.
THE DARKNESS :
Thanks. ( TALKING TO HIMSELF) Staying here longer will put me in trouble. Goodbye everybody. ( HE LET HIMSELF FALL AND LIES CRUMPLED ON THE FLOOR).
THE PEOPLE :
Hey, where are you going?
THE DARKNESS :
(RISING BUT NOR STANDING) Looking for mother! (HE FALLS DOWN AGAIN).
THE PEOPLE :
Huuuuuuh. (THEY RUN CIRLING THE DARKNESS).

ACT 5

THE PEOPLE are moving in a dance-like movement, almost tradisinal tribal dance. Thet sing a song while dancing.

Wok wok dur
Wok wok dur
Private propery is often appropriated
People are getting angrier
And asking their president to resign
Wok wok dur
Wok wok dur
Ministers have Mercedes
They talk cowardly
Accusing others of corruption that they themselves do
Wok wok dur
Wok wok dur
Company owners flee their business
Neglecting their workers who became jobless
As long as they can live in prosperity
Wok wok dur
Wok wok dur
Parties make impossible promise
While their followerS are senseless
And the country is ruined

SOMEONE :
Suvervisor in coming. Supervisor is coming. Quick! Back to work!
The music tarawangsa or violin is again heard. The properties start to move. THE PEOPLE make a very noisy fuss. They pull at tangled threads. In a Javanese-women sitting position they try to disentangle the threads. They do it fast as if in a hurry. Sometimes they pull hard at the threads, sometimes they wash their hands with the red-thick fluid in the bucket and rub it on their faces. Their faces seemed to be smeared with blood. Sometimes they even put their faces into the bucket.
THE DARKNESS :
(STANDS) Only yesterday this place was lively and full of spirit. Now it is so frightening. Is it because of the birth of babies without fathers? Or a prospective leader who will ruin the country’s next steps? Or is it because of the birth of parties that are not rooted in Mother Earth?
THE PEOPLE :
(IN SQUATTING POSITION WITH THEIR HANDS TO THE FRONT AS IF FIRING A GUN) Or is it because of the rifles that the gentlemen are carrying out there.
THE DARKNESS :
I’ve got no idea. All I now is that I become more confused. I am worried that mother’s condition is getting serious. (HE ALMOST FALLS DOWN) I feel like I was in the country of Alengka. Although Rama and his monkey troops had long conquered him, the hot waver caused by the breaths of Rahwana, the ex-king of Anger, increased my mather’s body temperature, and affected me as well so that I fee very hot now.

The Properties stop moving. Thy stop working on the threards. In the midst of THE DARKNESS speech above, THE PEOPLE start to slowly move with bent back circling the tangleds and moving the buckets from side to side.

SOMEONE :
We thought was only a dream, bat is was not.
THE PEOPLE :
(THEY TURN THEIR HEADS TOWARDS THE AUDIENCE) Yes, we felt the same way.
PERSON 1 :
(STANDS UP) The hot waver have even caused the cowards to flee this place.
PERSON 2 ;
(STANDS UP) Yes. Taking all their riches they fled abroad. All they do now is lean comfortably, watch TV reports, And laugh at the fate of the lower class who have mostly become the victims of the hot breaths of Rahwana and his cronies.
THE PEOPLE :
(STANDS UP) We can’t just let it happen.
THE DARKNESS :
That’s right! Otherwise, I can’t imagine what will happen to my mother and the people who share the same distress. Goodbye everybody. (LET HIMSELF FALLS DOWN).
THE PEOPLE :
Hey! Where are you going?
THE DARKNESS :
(RISING BUT NOT STANDING) Looking for mother and the remedy to cure her wounds.(HE FALLS AGAIN).
THE PEOPLE :
Watch your step!

ACT 6

Music is heard. Everybody stands up, except THE DARKNESS. Their left hands carry a bucket.

SOMEONE :
Where are we going now?
PERSON 2 :
Working.
THE PEOPLE :
Until when will this work last for as
PERSON 2 :
Until we have vanishsed from this life.
THE PEOPLE :
Hehhh! (SIGHING AND BENDING THEIT HEADS, EXXEPT FOR ONE PERSON. HE LOOKS AT HIS FRIENDS).
SOMEONE :
Hey, why are you so sad? Let’s get back to work.
THE PEOPLE :
We are tired.
SOMEONE :
What if we sing a song first before we resume work? (NO ONE RESPONDED) Let’s sing, ok! ( HE ASKS EACH ONE OF THEM BUT NO ONE RESONDS UNTIL HE FEELS UPSET AND CRIES. SEEING THEIR FRIEND CRYING, THE ONTHERS FEEL PITY. THEY RESPOND BY ASKING HIM TO START SINGING).

THE PEOPLE moving and singing.

Work! Work! Work!
Lest’s work, friends
Don’t you work lazily
Try! Try! Try!
Les’t make a try, friends
Keep on trying don’t be too easy
This nation belongs to us
A place where we live together
We have to defend it carefully
Otherwise they’ll take it away from us

SOMEONE :
Ssst! ( EVERYBODYS QUIET).
THE PEOPLE :
(WHISERING) What’s up?
SOMEONE :
There’s a security guard. Hide!

Everybody lies face-down behind the buckets and tangled threads. The tarawangsa music or violin is heard. THE DARKNESS stands up.

THE DARKNESS :
Seaching, trying and walking alone is indeed not easy. Not comfortable. The nights are quier and frightening. I long tor togetherness. Yes, I have to be with them, in order to be able to share the good times and the bad times.
THE PEOPLE :
(RAISING THEIR HEADS ON THE BUCKET) Yes, you must! Togetherness will bring us to the height of lifes spirits and the tranquility that we always dream of (HIDE AGAIN).
THE DARKNESS :
But where do I have to go? The road has too many branches and I don’t know which one to choose, which one will lead me in the right direction. (QUIET FOR A MOMENT) Even if it is said there are so many ways to Rome, one will be lost if one doesn’t find the right track. I don’t even know where I am now.
THE PEOPLE :
(RAISING THEIR HEADS OVER THE BUCKETS) At an intersection (HIDE AGAIN).
THE DARKNESS :
At an intersection? (HE EXAMINES THE ROOM) There’s so much blood of slaughtered animals or has it been a big conflict?
SOMEONE :
(RAISING HIS HEAD) Conflict. It’s not yet the time for sacrificial animal slaughter. That would be the month of the pilgrimage.
THE DARKNESS :
Conflict. Surely most of them do not understand the signs at this intersection. (QUIET FOR A MOMENT) Oh,God. It’s terrifying. I hope I or my brothers or sisters will not be the next victims.
THE PEOPLE :
(RAISING THEIR HEADS) Maybe yes, maybe not.
THE DARKNESS :
If yes, why? If not, why?
THE PEOPLE :
(RAISING THEIR HEAD) Because at an intersection, may people are trapped, while others are not.
THE DARKNESS :
God. Will I still see the sun rise and set with the people I love tomorrow?
SOMEONE :
(STANDS UP) Why did you say that?
THE DARKNESS :
I’m afraid of being trapped here, where as I haven’t found what I’m looking for.
THE PEOPLE :
(STANDS UP) Coward.
THE DARKNESS :
But the problem is…..
SOMEONE :
Don’t be hesitant! As you are here now, just go on your way. For this intersection is very dangerous for cowards.
THE PEOPLE :
Yes! Hesitation means death for you.
THE DARKNESS :
Death? (A BIT FRIGHTENED) Yes… Yes…. I know. This is a cosequence that must be take by those who is still alive. I’ll continue my search even though fear and worry are contantly behind my back.
SOMEONE :
You have to ‘kill’ the fear and worre first.
THE PEOPLE :
Yes. Then you may continue your journey.
SOMEONE :
And always bear in mind the words of wisdom, "The world can give nothing mere to a worried man."

THE DARKNESS and THE PEOPLE let theseves fall down.

THE PEOPLE :
(RISING BUT NOT STANDING) Hey! Where are you going? (FALLS AGAIN).
THE DARKNESS :
(RISING BUT NOT STANDING) looking for mother! (FALLS AGAIN).
THE PEOPLE :
( RISING BUT NOT STANDING) Do you dere? (FALLS AGAIN).
THE DARKNESS :
(RISING BUT NOT STANDING) Why not? (FALLS AGAIN).

ACT 7

Silence on the stage. THE DARKNESS gets up. He stretchers as if hes just awoken from sleep. From afar vaguely we can hear the tarawangsa music or violin.

THE DARKNESS :
All over the world, civilization is always sold out to violence and power. Compassion in humanity is on longer beneficial nor highly honoured as a common pride. The truth keeps silent. Conscience has decayed. Justice is lost. The red and white has faded to an unrecognized colour for every hour, every minute and every second it had been used to wipe the blood that was spilled. The Holy Book has lost its meaning and its function has shifted. Whose blood will be spilled to fertilize this land?
I have never had such a nightmare before. This land had always given me unequaled warmth. Because my intercourse with it is was pure without the burden of inadjustable echniques. My penis has always been erect, leading my libido to the top of ectasy.
But now, the fertilizer spread by those cheap politicians had exaggeratedly politicized the pureness of virtue. Friends, parents, thinkers, leaders and even myself are now being trapped in it. We are carrier away among the clouds of hallucination whispered tu as theough dreams of liberty. We forget ourseves, forget the glorious history of our homeland. Tempted by the new technology and ideas from foreign lands. And finally losing our zirah (cloth of the king). (SUDDENLY REALIZING SOMETHING) Zirah? Our zirah cloth is lost? So we’ve lost our dignity. Its purity has been torn to pieces at gunpoint, vengeance, the poin of pens, and various directives. Bring me back my cloth. I’m ashamed of being naked, without the zirah cloth. ( RUNNING HERE AND THERE) Bring me back my cloth! Bring me back my cloth! (HE FALLS DOWN ON THE WOOD LEVEL).

From behind the stage we can hear marching music. Like troops, the people enter the stage marching. They enter the stage singing, accompanied by the sound of drums, a whip in their right hands.

COMMANDER :
(SHOUTING A MILITARY INTSTUCTION) Troops….!
THE TROOPS :
(SOUND OF A GOAT) Mbeeeeee…..
COMMANDER :
Stoppp!!.. Shut up!!! (THE TROOPS BECOME SILENT WITH STERN FACES. THE COMMANDER INSPECTS THE CONDITION AND ATTITUDE OF EACH SOLDEIR) March in place! (THE SOLDIERS REMAIN UNMOVED) Why didn’t you move?
THE TROOPS :
We are bered by the same movement every time ( THEY SIT ON THE FLOOR).
COMMANDER :
(ANGRY) So what do you want?
THE TROOPS :
To beat people.
COMMANDER :
What?
THE TROOPS :
To beat people.
COMMANDER :
To beat people? You are crazy! You are suppesed to protect and saferguard the people, not act as hitmen… Move … Move… ( THE SOLDIERS STAND UP, BUT ONE OR TWO ARE STILL RELUCTANT). Hey, you! You! Stand up! (EVERYONE IS NOW IN AN ALERT POSITION, READY TO RECEIVE ORDERS) You are all pains in the ass….
THE TROOPS :
Mbeee.
COMMANDER :
Perhaps you take too many illegal goods, heh?
THE TROOPS :
Mbeee.
COMMANDER :
I told you… You must hands over all confiscated goods to the state, so you are free from overdoing.
THE TROOPS :
Mbeee.
COMMANDER :
Look over there! Your overdoing has resulted in demands for independence from some regions.
THE TROOPS :
Mbeee.
COMMANDER :
You useless goats! (MAKES AN INSPECTION) Ok. From this moment on you must be fully aware of your duties. March nicely and politely in order prevent disintegration. You read me?
THE TROOPS :
Mbeee.
COMMANDER :
Ok. Now relax, discipline, and ….. Move!

The soldiers move in the place.

COMMANDER :
March in the new fashion! Move….!

The soldiers obet the command. They march on the spot with slightly lowered bodies and bent feet. Their right hands are liften up to the height of their hands, their left hands are bent in front ot their chests as if holding a ashield for combat, their heads turned to the left and eyes directed upward.

COMMANDER :
Everybody.. move forward! (THE TROOP MOVES) Sing along… Sing!

THE TROOPS : (SINGS)
Pam! Pam! Pam!
Pam! Pam! Pam!
Dignity is our robe of glory.
Hay! (THEIR BUTTOCKS MOVED TO THE RIGHT).
Hay! (THEIR BUTTOCKS MOVED TO THE LEFT).
Pam! Pam! Pam!
Pam! Pam! Pam!
Dignity is our robe of glory.
Ces! Ces! (TO THE RIGHT.TO THE LEFT).
Pam! Pam! Pam!
Pam! Pam! Pam!
Dignity is our robe of glory.
Puah! Puah! Puah! Puah! (SPITTING).
COMMANDER :
Everyone….
THE TROOPS :
Mbeeee....
COMMANDER :
We’ve found the target. Don’t think about human right. Attack!
THE TROOPS attack THE DARKNESS and strikes him with whips. THE DARKNESS struggles and screams in pain, slowly losing his power to resist.
COMMANDER :
(SHOUTING) Stop it! Silence! (EVERYBOY IS SILENT).
THE TROOPS :
(MAKING A FUSS) Disperse! Disperse! Disperse! ( THEY RUN AWAY OUTSIDE).

ACT 8

The scream of tarawangsa music or violin is heard. Properties on the ceiling slowly move. THE PEOPLE enter the stage bending their back. Their movement resembles one who is watching for something. They take a coconut and play with it with both hands. They circle the heap of tangled threads. From outside the stage someone is shouting for "Mother and Father".

THE DARKNESS :
(LYING ON THE FLOOR) Mother! Mother! Mother! Father! (SIKENT FOR A MOMENT) O, God. I’ne had a strange dream. (LOOKS ASROUND. GAZES AT THE CEILING) O, nights that never stop being so tense. Your cover is so full of stain. It needs a lot of detergent and more time to make it clean. (GAZES AT ANOTHER DIRECTION) O, morning that has always faithfully woken me up. Apparently I am living in the land of dreams, where the leaders always offer fake beauty to soothe worries before going to sleep. A land built on unprooted arrogance, a land where the people are led to honour common lies. (THE PROPERTIES STOP MOVING) There are to many headless bodies everywhere. So many heads without bodies. Those are or cconuts that are scattered here. It’s unclear and difficult to make out. They’ve got the same smell. People don’t care if someone swallows another’s head. And even forgetting one’s head is threatened by its own thinking.

THE DARKNESS looks at a coconut and looked surprised. He stares at it sharply, and with deep feeling takes in with botth hands. Slowly tears are streaning down his ckeeks.

THE DARKNESS :
Father. Is it you. Father? Who had done this to you? Tell me who, father. Who? (POUSE) No! This is not his head. What is scattered here are not heads. He’s still alive. I was talking to him just yesterday. No! this must be sorcery. (TO THE AUDIENCE) This is sorcery, right? (QUIET FOR A MOMENT) No? you are lying! It’s a slander. It’s impossible for him to end up like this. He is a good man. (TO THE AUDIENCE) Tell me the truth. Tell me once again. This is sorcery, isn’t it? (NO RESPONE) Why are you so quiet? This isn’t really happening, right? This is not really happening. This is not real.

THE DARKNESS laments on the coconut by singing a heartrending song. He hugs the coconut deary by pressing it on his chest.

O, Gad the Marciful
What has done to deserve this?
His love had always been expressed, now forgetten
His compassion was never marred by aversion
But, this is the end of his life
People tend to forget themselves more
They don’t even care about anyone’s life
Killing others with no feeling nor consideration
Forgetten to whom the soul belongs

THE DARKNESS :
(RISES UP) One by one they’re gone. What kind of era is this? Do I have to kill, too, to make their suffering perfect? (TO THE AUDIENCE) Why di you let this happen and why couldn’t you do something? I guess you are just like me. Can do nothing but talk. It’s terrible that our conscience is deeply buried. Forgive me, Father. No. I am sure he is still alive. Look over there. He is with some other people making plans for a better future than we expected. We’ll be set free from poverty and this land will again be our main source of life. No need to queue up, fighting each ather for food. Then the nights will again sincerely accompany us to sleep, whispering a beautiful dream and covering us with warmth. Is that right, Father? Isn’t it? (CRYING, BUT SUDDENLY HIS FACE TURNS FIERCE) Shit! (HE SPITS SEVERAL TIMES) I thing this is the right time fo me to do something, Father. It is for you that I will crush these heads. (TAKES A CLEANLY PEELED COCONUT) You are like a ghost. You are everywhere, but difficult to find. Now, it’s the time for us to stand face to fase. The fairy tale is right. You are so rare, yet so dangerous. Apparently your face is as handsome as Arjuna, at you are as cunning as Sengkuni and your heart is more evil than Durna. (HE CRUSHES THE COCONUT ONTO THE FLOOR. IT’S BROKEN. HE TAKES ANOTHER, A WHOLE ONE) You rascal! (SPITS ON THE COCONUT) I can do what you can do. This moment I"ll crush you all over. (HE PEELS THE COCONUT USING HIS TEETH) Let’s fight head to head. (HE CRUSHES THE COCONUT USING HIS HEAD. HE TAKES ANOTHER PEELED ONE AND CRUSHES IT AGAIN USING HIS HEAD. HE TAKES ANOTHER ONE AND CRUSHES IT ONTO THE FLOOR).

With a fierce expression on his face THE DARKNESS picks small pieces of the crushed coconut. Smiling as he lools at them, then he throws them away. He laughs out loudly. As he stops laughing, his face turns sad. He pick up the piece of coconut again.

THE DARKNESS :
But what is the use of all this? Even if I crush hundreds or even millions of heads, it won’t bring father back to me.Don’t metion him. Even my beloved mother for whom I heve been searching everywhere can not be found. Indeed, hope ends up only in memories. My mother who may still be ill, I don’t even have the slightest idea where she is and what has become of her. ( THE CRY OF A BABY IS HEARD) A baby’s cry! It can still be heard from here. Or perhaps I heve not left this place? (EXAMINES THE ROOM. SEEMS SURPRISED) O, God. I’m still here, in this terrifying place. (HE FALLS DOWN ON THE FLOOR).

The musik softly plays a melancholy song. The light dims. The hung properties start to move up and down.

The souls are drifting by
Searching for their bodies
In the dark of de night
Staggering amidst the storm
We can never be sure of life’s ups and downs
The souls
Are suffering in sorrow
Without ending
Moaning in pain
Pressed by the pillars of arrogance
Full of revenge
Unconcerned with wounds
The souls are waiting
For hopes to come
With wide open doors
Existing or non existent
Fading into oblivior

The song stops, the screaming of the tarawangsa music or violin continues. THE PEOPLE enter the stage noisily. Then suddenly they are silent. The lights are off. The lights are on again. THE PEOPLE and THE DARKNESS are gone. All the hung properties drop onto the floor. All the lights are off again.

THE END

Thursday, October 11, 2007